[Kabar Linggau] – Di pasar internasional timah putih (stannum)  yang dihasilkan dari provinsi Kepulauan Bangka Belitung dikenal dengan merk BANGKA TIN. Penambangan timahnya sebagian besar diusahakan oleh perusahaan besar yaitu PT. Tambang Timah, Tbk.

Penambangan timah tidak hanya diilakukan oleh perusahaan resmi saja, tetapi banyak penambang-penambang illegal yang ikut serta mengeksploitasi daerah tersebut.

Akibat dari penambangan illegal tersebut, membuat salah satu warga Desa Sukamandi, Kab. Bangka Belitung Yudi Amsoni geram dibuatnya.

Alasan yang diutarakan  Yudi Amsoni bahwa hutan bakau yang seharusnya dilindungi habitatnya menjadi tercemar dan tidak terawatt.

Yudi Amsoni sudah berkali-kali mengingatkan para penambang illegal tersebut untuk berhenti melakukan kegiatan tersebut, tetapi ujarannya tidak diindahkan.

Yudi Amsoni berasumsi bahwa kegiatan mereka seperti ada yang membeking, karna sudah berkali-kali melaporkan ke pihak kepolisian, penambang tersebut tetap saja melakukan kegiatannya.

Baca juga : Kelas BPJS dihapus, bagaimana dengan masyarakat miskin?

”Ga punya nyali penegak hukum. Pak Kapolri ga punya nyali, nih petambang ilegal di desa saya, hancur bakau saya. Apakah ada aktor intelektual di belakang illegal mining (penambangan ilegal) di Belitung Timur ini? Apakah dia seorang tokoh besar sehingga illegal mining ini terus berjalan? Hancur Pak. Ini desa wisata. Ini bakau semua, mangrove yang katanya dilindungi di dunia,” ujar Yudi dalam salah satu segmen ”Jejak Tamak Korupsi Tambang Timah Rp 271 T”

Ujaran Yudi Amsoni merupakan bentuk kekecewaannya akan pihak yang semestinya memiliki wewenang untuk mengawasi dan menertibakan kegiatan penambang illegal tersebut.

sumber : kompastv

Share.

2 Comments

  1. Pingback: Keajaiban Langit yang Mencengangkan - Kabar Linggau

  2. Pingback: Digitalisasi yang menegangkan - Kabar Linggau

Leave A Reply

Exit mobile version